Selasa, 29 Oktober 2013

MOBIL HYBRID MENGGUNAKAN AIR




Penggunaan BBM makin hari makin bertambah seiring dengan terus bertambahnya volume kendaraan turut menyumbang emisi karbon dan juga menguras kantong hanya untuk membeli seliter minyak untuk dijadikan karbon yang merusak lingkungan. Kini kita perlu sebuah penghematan guna mengurangi penggunaan bahan bakar minyak fosil yang terus menghasilkan karbon oleh Karena itu kenapa tidak kita menggunakan air untuk kendaraan bermotor yang terbukti oleh Poempida Hidayatullah dan Futung Mustari, yang melakukan uji coba pada 30 jenis kendaraan menunjukkan efisiensi bahan bakar bisa sampai 40 persen atau 1 liter untuk 18 kilometer. Lies Wisodjodharmo Program Manager Kegiatan Pengembangan Teknologi Fuelcell BPPT mengatakan bahwa timnya‚ juga telah mengaplikasikan Hidrogen ini pada motor dengan kapasitas 500 watt. Hasil dari tes didapatkan bahwa 1 liter gas hidrogen dapat menempuh perjalanan sejauh 1 km. Bila dibandingkan dengan motor yang berbahan bakar biasa, penggunaan hidrogen ini jauh lebih efisien dari segi biaya per kilo yang dikeluarkan.

Bagai mana air bisa dicampur BBM ? Padahal kalo busi kena air saja mesin tidak akan hidup? Itulah hebatnya sains teknelogi, kini kita sedikit mengarah ke pelajaran kimia. Air yang memiliki rumus kimia (H20) merupakan senyawa dari unsur Oksigen dan Hidrogen, atau bisa dikatakan dalam air ada dua partikel Hidrogen adalah sebuah gas yang sangat mudah terbakar mirip gas LPG, Oksigen adalah sebuah gas yang dibutuhkan untuk pembakaran (pembakaran dapat terjadi kalau ada persediaan Oksigen yang mencukupi). Hidrogen adalah unsur yang teringan. Dan ia juga merupakan unsur yang sangat melimpah. Anda bisa menemukannya, hasilnya dapat menghemat BBM 30 sampai 80%. Seperti dilaporkan dalam buku mereka, Rahasia Bahan Bakar Air, uji coba pada Toyota Avanza, Mei lalu, di seluruh jagad raya ini. Hidrogen ada di bintang-bintang, di ruang antara bintang-bintang, dan tentu saja di bumi yang paling mudahnya kita bias mendapatkannya dari air.

Lalu bagaimana hidrogen dapat menghemat BBM ? Seperti yang sudah diulas diatas tadi sifat hidrogen yang terkandung dalam air memiliki sifat mudah meledak/terbakar seperti halnya bensin atau minyak tanah. Sedangkan mesin memerlukan bahan bakar untuk melakukan proses pembakaran didalam ruang bakar untuk menciptakan tekanan yang menggerakkan piston. Untuk melakukan proses pembakaran mesin membutuhkan bahan bakar seperti bensin, premium, pertamax atau solar lalu didalam ruang bakar mesin, busi akan memercikan api guna membakar bahan bakar tersebut sehingga dapat menggerakkan piston. Nah sekarang bagai mana jika BBM yang selama ini kita beli kini kita gantikan dengan Hidrogen yang banyak terdapat di air.

Bagaimana caranya mendapatkan Hidrogen dari air ? Caranya dengan melakukan elektrolisis pada air yaitu penguraian senyawa air (H2O) menjadi oksigen (O2) dan hidrogen gas (H2) dengan menggunakan arus listrik pada elektroda yang melalui air tersebut. Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk gelembung pada elektroda dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Atau jika mau iseng iseng pengen percobaan bisa dilakukan dengan cara berikut: Ambil air di dalam sebuah gelas, ingat harus menggunakan air bersih, terus ambil 2 baterai 1.5 V yang berukuran besar, lalu buka kedua baterai itu. Kalau sudah, kamu nanti akan memnemukan sebuah batangan hitam (elektroda). Lalu kedua batangan itu sambung ke baterai 9V. Lalu celupkan dua elektroda itu tadi. Maka akan terlihat gelembung-gelembung hidrogen pada elektroda, hati-hati jangan lakukan percobaan ini dekat api karena sifat hidrogen sangat mudah terbakar.
Hidrogen ini belum dapat digunakan 100% persen pada mesin kendaraan konvensional saat ini karena Kendaraan bermotor umumnya di desain untuk menggunakan bensin (otto cycle), yakni campuran antara cetane (C7 H16) dan octane (C8 H18). Jadi jika ingin mengaplikasikan Hidrogen ini sebagai bahan bakar, harus mendesain ulang prinsip kerja motor pembakaran piston. Tapi bukan berati teknologi ini tidak bisa digunakan. Hidrogen hasil elektrolisis yang membentuk gelembung udara dapat disalurkan ke manipol dan bercampur dengan bensin yang sudah dikabutkan oleh karburator menuju ruang pembakaran. Pembakaran yang dengan tambahan gas hidrogen ini ternyata makin kuat, yang berdampak pada penghematan BBM.

Bisa dikatakan air bisa buat menghemat BBM yang harganya mahal saat ini. Biaya untuk membuat rangkaian penghemat BBM yang dibutuhkan untuk pembelian tabung, elektroda, dioda, lampu, dan kabel dll. Ini merupakan teknologi masa depan, mungkin 5 – 10 tahun kedepan semua kendaraan sudah menggunakan bahan bakar hidrogen yang sekarang teknologi ini sudah gencar dikembangkan oleh produsen-produsen otomotif dunia. Atau bisa dikatakan suatu hari nanti kita tidak perlu lagi keluarin duit utuk beli BBM. Tinggal isi tangki pake air mobil jalan deh.


Kendaraan hidrogen adalah kendaraan yang mempergunakan gas hidrogen sebagai bahan bakarnya. Hal ini tidak terbatas pada mobil saja, melainkan telah ada pesawat udara yang menggunakan hidrogen sebagai bahan bakarnya. Pada dasarnya kendaraan seperti ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar konvensional seperti minyak yang biasanya akan menimbulkan polusi dan efek rumah kaca.

Teknologi bahan bakar hidrogen ini sebenarnya sudah lama ditemukan sejak 100 tahun yang lalu. tetapi karena pembisnis-pembisnis minyak takut bangkrut pada saat itu hasil temuan ini dihilangkan, bukan hanya temuannya, tetapi juga penelitinya. Nasib tragis dialami Nicola Tesla yang dipenjara dan dihukum mati tahun 1943 dan Stanley Meyer dari AS yang terbunuh tahun 1998. Upaya pembuatan bahan bakar air (watercar) sebenarnya telah dirintis lebih dari dua abad, tepatnya pada tahun 1805 oleh Isaac de Rivaz yang dari Swiss. Ia orang pertama yang menggunakan hidrogen yang dihasilkan dari elektrolisa sebagai bahan bakar untuk mesin. Namun ketika itu rancangannya belum dapat memuaskan. Setelah itu, tersebutlah beberapa nama peneliti yang melanjutkan upaya itu, seperti Luther Wattles dan Rudolf A Erren. Kemudian, Yull Brown, warga Sydney, Australia, pada tahun 1974 berhasil membuat BBA untuk menggerakkan mesin.

MENGENAL TEKNOLOGI MOBIL HYBRID



http://motorjogja.com/mobil/mengenal-teknologi-mobil-hybrid





MOBIL HYBRID — Kenaikan harga BBM memang menjadi satu hal yang tidak bisa dipungkiri terus terjadi. Seperti diketahui Bahan Bakar Minyak merupakan hasil dari sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui. Permasalahan inilah salah satu yang mendasari lahirnya teknologi Hybrid. Menggantikan BBM 100 persen dengan sumber lain sebagai bahan bakar kendaraan bermotor memang masih belum efektif bisa diterapkan. Karena itulah Teknologi Hybrid diterapkan. Teknologi Hybrid pada dasarnya menggunakan bahan bakar minyak dan listrik secara bersamaan.




Mobil hybrid bekerja secara komplementer dengan dua buah sumber tenaga yaitu BBM dan listrik. Dengan menggabungkan dua sumber tenaga tersebut konsumsi BBM akan dapat dihemat. Saat gas ditekan, mobil masih bisa melaju dengan motor listriknya hingga 50 km per jam. Mesin bensin baru akan bekerja jika mobil berada di atas kecepatan 50 km/jam atau ketika baterai mobil tersedot habis.


Salah satu yang sudah menerapkan teknologi Hybrid pada mobil komersial adalah Toyota dengan Toyota Prius. Berdasarkan test drive Toyota Prius di jalanan Jakarta, Toyota Prius, mendapatkan angka konsumsi bahan bakar yang sangat irit yaitu 1 liter untuk 22 kilometer. Efisiensi bahan bakar yang dihasilkan Toyota Prius membuat pengendara mobil ini tidak akan khawatir dengan kenaikan harga BBM yang terus meningkat. Namun sayangnya harga mobil hybrid ini masih lumayan tinggi untuk konsumen kelas menengah ke bawah.
Cara Kerja Mobil Hybrid


1. Saat Mobil Berhenti

Pada saat mobil hybrid berhenti yang bekerja adalah mesin bahan bakar, sedangkan generator, dan motor listrik tidak bekerja. Pada saat energi listrik di baterai mulai menipis dan kendaraan sedang berhenti, mesin bahan bakar akan menyala sejenak untuk sedikit mengisi baterai.

Mesin bahan bakar memutar generator sehingga generator dapat menghasilkan energi listrik untuk mengisi ulang baterai. Bila kondisi EV (Electric Vehicle) Mode yang terdapat pada mobil hybrid maka mobil hanya digerakkan oleh motor listrik saja (maksimum sejauh 1km jika baterai dalam kondisi penuh) dan kecepatan maksimum 45 km/jam.





Bagan Teknologi Mobil Hybrid


2. Saat Kendaraan Mulai Bergerak dari Berhenti

Saat keadaan ini motor listrik menggerakkan mobil, sementara mesin bahan bakar tidak bekerja. Baterai memberikan energi listrik kepada motor listrik, motor listrik menggerakkan roda mobil.


3. Kondisi Kecepatan Rendah Konstan

Motor listrik sebagai penggerak utama sementara mesin bahan bakar hanya sekali-sekali saja membantu. Baterai memberikan energi listrik kepada motor listrik, motor listrik menggerakkan roda mobil dan mesin bahan bakar terkadang membantu menggerakkan roda mobil.


4. Kondisi Akselerasi

Motor listrik dan mesin bahan bakar secara bersamaan bekerja untuk menghasilkan tenaga gabungan yang besar. Baterai memberikan energi listrik kepada motor listrik untuk menggerakkan roda mobil begitu juga secara bersamaan mesin bahan bakar juga menggerakkan roda mobil.


5. Kondisi Kecepatan Tinggi Konstan

Mesin bahan bakar bekerja penuh karena sebagai penggerak utama sementara motor listrik hanya sekali-sekali saja membantu. Mesin bahan bakar menggerakkan roda, baterai terkadang memberikan energi listrik kepada motor listrik yang terkadang membantu mesin bahan bakar menggerakkan roda mobil.


6. Kondisi Deselerasi

Motor listrik dalam kondisi mengisi ulang baterai sehingga sebagai generator kedua fungsinya sementara mesin bahan bakar berhenti bekerja. Roda mobil memutar motor listrik yang berubah fungsi sebagai generator kedua untuk menghasilkan energi listrik untuk mengisi ulang baterai.


Jika teknologi Hybrid sudah bisa diimplementasikan pada kebanyakan mobil, tentu akan banyak sekali penghematan BBM yang dihasilkan. Selain itu dengan teknologi Hybrid pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh gas buang mobil BBM akan berkurang banyak, sehingga ramah terhadap lingkungan.

MOBIL HYBRID SEBAGAI MOBIL MASA DEPAN


Liek Toyota Surabaya – Mobil Hybrid. Toyota mengembangkan Mobil Hybrid dengan tujuan agar dapat meningkatkan kualitas hidup dan dapat mengarah ke masa depan sehingga mobil hybrid dianggap sebagai mobil masa depan. Sebuah teknologi revolusioner yang difokuskan untuk mengurangi polusi, menjaga sumber daya alam yang berharga, dan dapat memberikan kenyamanan dalam berkendara.




Mobil hybrid memiliki dua sumber tenaga yang berbeda yaitu mesin bahan bakar (mesin konvensional), motor listrik dan baterai untuk menggerakkan mobil hybrid tersebut sehingga efektif dalam menghemat konsumsi bahan bakar. Kedua mesin bekerja sama dalam rangka untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Dengan teknologi ini, Anda akan dapat mengurangi penggunaan bahan bakar lebih dari setengah.


Bagaimana cara kerja mobil hybrid ?
Mulai Bergerak dari Berhenti
Motor listrik menggerakkan mobil sementara mesin bahan bakar tidak bekerja. Baterai memberikan energi listrik kepada motor listrik, motor listrik menggerakkan roda mobil.

Kondisi Kecepatan Rendah Konstan
Motor listrik sebagai penggerak utama sementara mesin bahan bakar hanya sekali-sekali saja membantu. Baterai memberikan energi listrik kepada motor listrik, motor listrik menggerakkan roda mobil dan mesin bahan bakar terkadang membantu menggerakkan roda mobil.

Kondisi Akselerasi
Motor listrik dan mesin bahan bakar secara bersamaan bekerja untuk menghasilkan tenaga gabungan yang besar. Baterai memberikan energi listrik kepada motor listrik untuk menggerakkan roda mobil begitu juga secara bersamaan mesin bahan bakar juga menggerakkan roda mobil.

Kondisi Kecepatan Tinggi Konstan
Mesin bahan bakar bekerja penuh karena sebagai penggerak utama sementara motor listrik hanya sekali-sekali saja membantu. Mesin bahan bakar menggerakkan roda, baterai terkadang memberikan energi listrik kepada motor listrik yang terkadang membantu mesin bahan bakar menggerakkan roda mobil.

Kondisi Deselerasi
Motor listrik dalam kondisi mengisi ulang baterai sehingga sebagai generator kedua fungsinya sementara mesin bahan bakar berhenti bekerja. Roda mobil memutar motor listrik yang berubah fungsi sebagai generator kedua untuk menghasilkan energi listrik untuk mengisi ulang baterai.

Kondisi Berhenti
Mesin bahan bakar, generator, dan motor listrik tidak bekerja.

Pada saat energi listrik di baterai mulai menipis dan kendaraan sedang berhenti, mesin bahan bakar akan menyala sejenak untuk sedikit mengisi baterai. Mesin bahan bakar memutar generator sehingga generator dapat menghasilkan energi listrik untuk mengisi ulang baterai. Bila kondisi EV (Electric Vehicle) Mode yang terdapat pada mobil hybrid maka mobil hanya digerakkan oleh motor listrik saja (maksimum sejauh 1km jika baterai dalam kondisi penuh) dan kecepatan maksimum 45 km/jam.

Manfaat mobil hybrid yaitu efisiensi bahan bakar yang luar biasa, menghasilkan emisi yang rendah terhadap lingkungan, kesenyapan terhadap suara mesin pada saat bekerja, dan kepuasan dalam mengemudi. Toyota All New Camry 2.5 HV merupakan jenis mobil hybrid yang baru dihadirkan oleh Toyota di Indonesia.

Senin, 28 Oktober 2013

Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian & Contoh


http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/03/cara-kerja-dan-aplikasi-sel-bahan-bakar-hidrogen-bahan-prinsip-contoh.html





Cara Kerja dan Aplikasi Sel Bahan Bakar Hidrogen, Bahan, Prinsip, Pengertian, Contoh - Energi merupakan salah satu kebutuhan hidup yang harus terpenuhi demi kelangsungan hidup manusia. Saat ini kebutuhan energi sudah sangat besar seiring dengan peningkatan jumlah penduduk terutama energi listrik. Jadi, dalam bidang energi sudah saatnya kita mengusahakan untuk memproduksi sumber energi alternatif untuk mengantisipasi ketersediaan energi di masa yang akan datang. Sumber energi tersebut harus memenuhi parameter keberhasilan suatu sumber energi alternatif yaitu: dapat diperbarui (renewable energy), ramah lingkungan, dan biaya yang murah. Salah satunya dengan memanfaatkan sel bahan bakar (Fuel cell). Fuel cell merupakan konverter dari energi kimia ke energi listrik yang ramah lingkungan. Fuel cell dirancang untuk dapat diisi reaktannya yang terkonsumsi dimana fuel cell memproduksi listrik dan penyediaan bahan bakar hidrogen dan oksigen dari luar. Reaktan yang biasanya digunakan dalam sebuah sel bahan bakar adalah hidrogen di sisi anoda dan oksigen di sisi katoda. Reaktan mengalir masuk dan produk dari reaktan mengalir keluar. Sehingga operasi jangka panjang dapat terus menerus dilakukan selama disuplai oleh bahan bakar (hidrogen) dan oksigen.



Fuel cell ini di klasifikasikan sebagai pembangkit tenaga karena sel bahan bakar ini dapat beroperasi secara terus menerus atau selama ada persediaan bahan bakar (fuel) dan oksidan. Fuel cell diklasifikasikan dalam beberapa jenis tergantung dari jenis bahan bakar yang digunakan, yaitu Alkaline Fuel Cell (AFC), Molten Carbonate Fuel Cell (MCFC), Phosphoric Acid Fuel Cell (PAFC), Proton Exchange Membrane (PEM), Solid Oxide Fuel Cell (SOFC) (De Guire, 2003). Fuel cell memiliki karakteristik umum yaitu sangat efisien (>85%), modular (dapat ditempatkan dimana diperlukan), ramah lingkungan (tidak berisik, emisinya rendah), panas yang terbuang dapat di simpan (Handayani, 2008).


SOFC dianggap menarik karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan fuel cell jenis lain. SOFC merupakan fuel cell dengan temperatur tertinggi pada saat ini yaitu sekitar 600 oC - 1000 oC dan juga memiliki tingkat efesiensi yang paling tinggi yaitu sekitar 60%. SOFC berkembang sejak tahun 1950 dan memiliki dua bentuk yaitu planar dan tubular. Keuntungan dari fuel cell jenis ini yaitu dapat menggunakan bahan bakar lain selain hidrogen. Sama seperti jenis fuel cell yang lain, SOFC juga memiliki tiga bagian penting yaitu elektrolit, katode, dan anode (De Guire, 2003).


1. Sel Bahan Bakar (Fuel Cell)


Fuel cell (sel bahan bakar) adalah suatu konverter dari energi kimia menjadi energi listrik dengan memanfaatkan kecendrungan hidrogen dan oksigen untuk bereaksi dimana operasi jangka panjangnya dapat terus menerus terjadi selama bahan bakarnya dapat terus disuplai yaitu hidrogen dan oksigen. Gas hidrogen dan oksigen secara elektrokimia dikonvert menjadi air. Reaksi secara keseluruhannya adalah sebagai berikut (Cook, 2001):



Anoda : H2 → 2 H+ + 2 e-
Katoda : ½ O2 + 2 H+ + 2 e- → H2O

Reaksi total : H2 + ½ O2 → H2O + energi listrik + kalor



Prinsip kerja fuel cell yaitu hidrogen di dalam sel dialirkan menuju sisi anoda sedangkan oksigen di dalam udara dialirkan menuju sisi katoda. Pada anoda terjadi pemisahan hidrogen menjadi elektron dan proton (ion hidrogen). Ion hidrogen ini kemudian menyebrang dan bertemu dengan oksigen dan elektron di katoda dan menghasilkan air. Elektron-elektron yang mengandung muatan listrik ini akan menuju katoda melalui jaringan eksternal. Aliran elektron-elektron inilah yang akan menghasilkan arus listrik. Skema fuel cell diperlihatkan pada Gambar 1.

Skema sel bahan bakar (fuel cell) (Anonim 2012)

Fuel cell memiliki beberapa kelebihan yaitu (Anonim, 2008):

Memiliki efiesiensi yang tinggi (60%-70%)
Ramah lingkungan (tidak berisik, emisinya rendah)
Secara teoritis, limbah atau emisi yang dihasilkan adalah air (H2O).
Berbeda dengan pada pembakaran biasa dengan menggunakan mesin, dimana limbah yang dihasilan adalah gas-gas yang berpotensi untuk mencemari lingkungan. Selain itu jika menggunakan pembangkit daya yang konvensional, polusi kebisingan juga dapat terjadi, sedangkan sel bahan bakar ini tidak menghasilkan suara. Sel bahan bakar tidak memerlukan penggantian elektrolit dan pengisian bahan bakar, akan tetapi jika bahan bakarnya habis, maka sel ini juga tidak dapat berfungsi.


3. Bahan bakarnya flexibel


Bahan bakar yang digunakan untuk sel bahan bakar dapat digunakan beberapa macam, kebanyakan menggunakan hidrogen dan oksigen sebagai bahan bakar dan oksidannya. Selain menggunakan kedua bahan tersebut, bahan bakar lain yang dicoba digunakan antara lain ammonia, hidrazine, metanol dan batubara.


Fuel cell memiliki beberapa macam tipe yaitu

Alkaline Fuel Cell (AFC)
Molten Carbonate Fuel Cell (MCFC)
Phosphoric Acid Fuel Cell (PAFC)
Proton Exchange Membrane (PEM)
Solid Oxide Fuel Cell (SOFC)
4. Solid Oxide Fuel Cell (SOFC)


SOFC adalah suatu jenis perangkat elektrokimia yang menggunakan bahan bakar oksida padat yang dapat mengkonversi secara langsung dari energi kimia menjadi energi listrik yang lebih efisien dan bahan bakarnya bebas dari polusi. Skema sebuah SOFC diperlihatkan pada Gambar 2. (Wikipedia, 2012):

Gambar 2. Skema SOFC. (Anonim, 2012)

Pada suhu tinggi oksigen bermigrasi melalui lapisan elektrolit menuju anoda yang akan mengoksidasi bahan bakar yang mengandung molekul hidrogen pada anoda yang akan menghasilkan ion hidrogen dan akan membebaskan elektron. Elektron yang dihasilkan pada anoda keluar dari sirkuit masuk ke sisi katoda yang akan dipergunakan sebagai tenaga listrik dengan efisiensi 60%. SOFC memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis fuel cell yang lain, yaitu (Anonim, 2012):

Memiliki efisiensi yang tinggi 60%.
Memiliki stabilitas jangka panjang.
Ramah lingkungan.
Dapat menggunakan beberapa jenis bahan bakar.
Emisinya rendah.
Biaya yang relatif rendah.
Dapat beroperasi pada suhu tinggi yaitu 600 oC - 1000 oC.
SOFC memiliki dua desain yaitu desain planar dan tubular (tabung) seperti yang terlihat pada Gambar 3.


Desain planar memiliki lapisan khusus dalam berbagai ukuran yang banyak digunakan dalam berbagai sel bahan bakar dimana lapisan elektrolitnya terletak diantara elektroda. Sedangkan desain tubular, udara atau bahan bakar melewati bagian dalam tabung dan gas lainnya dilewatkan pada bagian luar tabung. Desain tubular menguntungkan karena lebih mudah untuk membatasi dan memisahkan bahan bakar dari udara dibandingkan dengan bentuk planar (De Guire 2003).

Gambar 3. (a) sistem tubular SOFC (b) Sistem planar SOFC (De Guire 2003).

Sama seperti fuel cell pada umumnya, SOFC juga memiliki bagian penting, yaitu (De Guire, 2003):


a. Elektrolit


Elektrolit merupakan pemisah antara katoda dan anoda. Elektrolit berfungsi untuk memindahkan ion-ion yang terlibat dalam reaksi-reaksi reduksi dan oksidasi dalam sel bahan bakar. Elektrolit sangat berpengaruh pada kinerja fuel cell.


b. Katode


Katode merupakan elektroda yang berinteraksi dengan udara yang berfungsi menjadi batas untuk oksigen dan elektrolit, mengkatalis reaksi reduksi oksigen dan menghubungkan elektron-elektron dari sirkuit luar ke tempat reaksi.


c. Anode


Anode merupakan elektroda yang berinteraksi dengan bahan bakar yang berfungsi menjadi batas untuk bahan bakar dan elektrolit, mengkatalis reaksi oksidasi dan menghubungkan elektron-elektron dari tempat reaksi elektron dari tempat reaksi ke eksternal sirkuit. Anoda merupakan bagian terpenting dalam SOFC. Anode dalam sebuah SOFC harus memiliki beberapa kriteria yaitu

Memiliki konduktivitas listrik yang tinggi (10-1- 103 (Ω.cm)-1)
Stabil dalam lingkungan reduksi
Mempunyai porositas yang spesial dan banyak (20%-40%)
Memiliki aktivitas katalik dan elektrokimia yang tinggi untuk mengoksidasi bahan bakar
Memiliki struktur kristal kubik.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Herliyani (2012) dilakukan pembuatan anode dengan bahan dasar CSZ (calcia stabilized zirconia) dengan metode kompaksi serbuk. Dimana metode kompaksi serbuk merupakan proses pembuatan serbuk dan benda jadi dari serbuk logam atau paduan logam dengan ukuran serbuk tertentu dengan cara di kompaksi tanpa melalui proses peleburan (Rusianto, 2009). Energi yang digunakan dalam proses ini relative rendah sedangkan keuntungan lainnya antara lain hasil akhirnya dapat langsung disesuaikan dengan dimensi yang diinginkan yang berarti akan mengurangi biaya permesinan dan bahan baku yang terbuang.


Jenis dan macam produk yang dihasilkan oleh proses metalurgi serbuk sangat ditentukan proses kompaksi dalam membentuk serbuk dengan kekuatan yang baik. Pada proses kompaksi serbuk meliputi proses pengepresan suatu bentuk di dalam cetakan yang terbuat dari baja. Teknik metalurgi serbuk meliputi pencampuran serbuk (mixing), pembuatan pellet (kompaksi), perlakuan panas (sintering). Pengecoran adalah suatu proses manufaktur yang menggunakan logam cair dan cetakan untuk menghasilkan parts dengan bentuk yang mendekati bentuk geometri akhir produk jadi. Logam cair akan dituangkan atau ditekan ke dalam cetakan yang memiliki rongga sesuai dengan bentuk yang diinginkan (Anonim, 2011). Namun teknik ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain butir-butir yang dihasilkan cukup besar sehingga menurunkan kekuatan tariknya. Selain itu teknik pengecoran mempunyai kesulitan dalam pemaduan unsur-unsur dengan perbedaan titik leleh yang besar. Sehingga metode metalurgi serbuk ini digunakan dalam penelitian ini walaupun metode ini memiliki beberapa kelemahan yaitu : bentuk yang rumit tidak dapat dibuat, bahan serbuk logam mahal dan kadang sulit penyimpanannya karena mudah terkontaminasi.

Keramik CSZ ini merupakan campuran dari ZrO2 dan CaO dengan perbandingan persentase mol sebesar 85% dan 15% karena jika ZrO2 lebih dari 85% maka dikhawatirkan keramik akan menjadi rapuh sedangkan jika persentase mol kurang dari 85% maka tidak akan membentuk struktur kristal kubik seperti yang diharapkan. Kemudian campuran CSZ yang terbentuk ditambahkan dengan NiO dan PVA yang bervariasi konsentrasi beratnya masing-masing sebesar 2%, 6%, dan 10% dimana variasi persentase konsentrasi berat PVA seperti ini paling tepat untuk menghasilkan porositas keramik yang spesial tetapi konsentrasi berat PVA ini bisa diekstrapolarsi jika ada penelitian lain yang mencoba dengan persentase konsentrasi berat PVA sebesar ≤ 2%, 6%, dan 10%. Berikut ini adalah tabel karakteristik dari PVA (polyvinyl alcohol).


Tabel 1. Karakteristik PVA (Wikipedia, 2012)




Rumus Molekul
(C2H4O)

Kerapatan
1,19 – 1,39 g/cm3

Titik didih
228 oC

Titik lebur
230 oC



Matula et al., (2008) menjelaskan bahwa untuk mendapatkan bahan anode SOFC yang paling baik, maka campuran harus disintering dengan temperature sintering ≤ 1400 oC dan direduksi pada temperatur minimal 800 oC Hal ini terlihat dari Gambar 4, dimana pada gambar ini terlihat bahwa densitas dari Ni-YSZ meningkat seiring dengan penambahan suhu sintering tetapi akan kembali menurun jika suhu sinteringnya lebih dari 1500 oC. Sedangkan jika temperatur reduksi kurang dari 800 oC maka reduksi akan berlangsung tidak sempurna karena masih adanya fase NiO.

Gambar 4. Kurva sintering Ni-YSZ 50:50 (Matula et al., 2008)

Selain suhu sintering dan reduksi, komposisi NiO pada Ni-YSZ juga mempengaruhi bahan yang akan dijadikan anode. Seperti yang diharapkan porositas meningkat terhadap NiO sebagai konsekuensi dari reduksi Ni. Efek ini menguntungkan untuk transport bahan bakar di anoda. Namun, ketika tingkat porositas terlalu tinggi maka sifat mekanik berkurang. Berdasarkan pengujian sifat listrik ditemukan bahwa meningkatnya NiO menyebabkan peningkatan konduktivitas pada Ni-YSZ. NiO yang lebih rendah dari 40% menghasilkan konduktivitas yang relative rendah dan material ini tidak sesuai untuk diaplikasikan sebagai anode pada SOFC. Untuk mempertahankan sifat mekanik yang tinggi yang diperlukan untuk anoda SOFC, komposisi NiO di NiO-YSZ campuran tidak boleh lebih tinggi dari 60% tetapi tidak boleh lebih kurang dari 40% agar harga konduktivitas keramik tidak terlalu rendah (Matula et al., 2008). Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pembuatan keramik Ni-CSZ untuk diaplikasikan sebagai anode SOFC dengan komposisi NiO 50% dengan suhu sintering 1500 oC dan direduksi pada suhu 900 oC.

Gambar 5. Proses yang terjadi selama pembuatan keramik secara fisis

Proses fisis yang terjadi selama pembuatan pelet Ni-CSZ secara fisis dijelaskan pada Gambar 5. sebagai berikut:

2.1. Keramik


Keramik dapat didefinisikan sebagai campuran anorganik yang mencakup bahan logam dan nonlogam yang dibentuk berdasarkan perlakuan panas dan tekanan (Boursoum, 1997). Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia, dan mineral bawaannya. Keramik memiliki jenis yang sangat banyak. Salah satunya adalah ZrO2, dimana keramik ZrO2 memiliki karakteristik sebagai berikut: diguanakan pada suhu sampai 2.400 oC, kepadatan tinggi, konduktifitas termalnya rendah, kimia inertness, perlawanan terhadap logam cair , ionic konduksi listrik, ketangguhan perpatahan tinggi, kekerasan tinggi, (dalam Wikipedia, 2010). Gambar berikut menunjukan diagram fasa ZrO2-CaO.

Gambar 6. Diagram fasa ZrO2-CaO. (Anonim, 2012)

Gambar 6. merupakan diagram fasa ZrO2 CaO. Dalam penelitian ini keramik CSZ diharapkan membentuk struktur kubik sehingga persentase mol CaO harus diantara 15% - 27% dan temperature sinteringnya ≤ 1500 oC.


2.3 Sintering


Proses sinter merupakan proses perlakuan panas pada serbuk ataupun padatan dari serbuk pada temperatur 2/3 dibawah titik leleh untuk meningkatkan kekuatan (Didiek et al., 2007). Proses sintering ini lebih efektif daripada proses kalsinasi. Dimana kalsinasi itu merupakan suatu metode pemisahan dengan memecah ikatan antar senyawa menggunakan pemanasan 800 oC karena pada suhu ini ikatan kompleks akan terpecah. Sedangkan pembakaran adalah suatu tahapan reaksi kimia antara suatu bahan bakar dan suatu oksidan disertai dengan produksi panas yang kadang disertai cahaya dalam bentuk pendar atau api.


Proses sintering sangat efektif untuk mengurangi porositas, meningkatkan kekuatan, meningkatkan konduktivitas termal, dan meningkatkan kerapatan keramik sesuai dengan mikrostruktur dan komposisi fasa yang diinginkan. Selama proses sintering ukuran butir mengecil dan menjadi lebih bulat karena permukaan partikel masuk ke pori-pori di dalamnya sehingga porositas berkurang dan membuat sampel menjadi lebih padat. Gambar 7a. dan Gambar 7b. menunjukan dua kemungkinan yang akan terjadi selama proses sintering.

Gambar 7. (a) Densifikasi diikuti dengan pertumbuhan butir (grain growth), (b) coarsening (Barsoum, 1997).

Kedua mekanisme ini saling bersaing. Jika proses atomnya yang mendominasi adalah densifikasi, maka kerapatan dan porositasnya akan mengecil dan menghilang terhadap waktu. Tetapi, jika proses coarsening lebih cepat, maka kekasaran dan porositasnya akan membesar terhadap waktu (Barsoum, 1997).



3. Polimeric Electrolyte Membrane Fuel Cells (PEMFC) (Mudzakir, 2010)

PEMFC merupakan sel bahan bakar yang banyak dipilih dikarenakan sel bahan bakar tersebut memiliki sifat yang lebih menguntungkan, yakni mampu meminimalisir korosi yang sering terjadi dalam penggunaan sel bahan bakar jenis laindengan bahan elektrolit yang korosif, selain itu PEMFC dapat beroperasi pada temperatur rendah (sekitar 80 oC). Pada PEMFC membran digunakan sebagai konduktor proton dan insulator elektronik sehingga mempermudah pengemasan dan meningkatkan efisiensi kerja transfer ion H+ hingga mencapai 40-50%. (Souza, 2003)

Membran yang saat ini banyak digunakan untuk PEMFC adalah Nafion®. Politetrafluoroetilena dengan cabang gugus asam sulfonat (Nafion®) memiliki konduktivitas proton, ketahanan mekanik, dan ketahanan termal yang baik. Namun membran Nafion® memiliki kekurangan yaitu tidak ramah lingkungan, harga yang mahal serta memiliki permeabilitas metanol yang tinggi sehingga tidak dapat diaplikasikan pada Direct Methanol Fuel Cell (DMFC). Oleh karena itu berbagai penelitian dilakukan dengan tujuan mendapatkan membran baru yang lebih baik dari segi kualitas, harga dan ramah lingkungan dibandingkan dengan Nafion®.

Dalam PEMFC membran yang digunakan harus bermuatan negatif agar efisien dalam menarik dan melewatkan proton dari anoda ke katoda. Dan agar lebih ramah lingkungan membran harus dapat terdegradasi secara alami, sehingga membran hasil pemakaian tidak menjadi limbah atau polutan.

Kitosan merupakan salah satu biopolimer yang memenuhi syarat untuk diaplikasikan sebagai membran dalam sel bahan bakar. Karena kitosan bersifat hidrofilik, memiliki kekuatan mekanik yang baik, mudah dimodifikasi secara kimia serta dapat terdegradasi secara alami. Kitosan merupakan biopolimer yang berasal dari kulit udang yang telah dideasetilisasi. Sehingga pemanfaatan kitosan sebagai membran dapat menjawab permasalahan limbah dan menaikkan nilai ekonomi kulit udang tersebut. Bila dibandingkan dengan Nafion® konduktivitas kitosan sangat rendah, sehingga untuk menaikkan konduktivitas ioniknya dilakukan sulfonasi pada kitosan.


Polymeric electrolyte membrane fuel cell (PEMFC) disebut juga proton exchange membrane fuel cell. Membran ini berupa lapisan tipis padat yang berfungsi sebagai elektrolit pemisah katoda dan anoda. Membran ini secara selektif mengontrol transport proton dari anoda ke katoda dalam sel bahan bakar. PEMFC mengandung katalis platina. Selain itu, pada fuel cell ini tidak dipakai fluida yang bersifat korosif seperti jenis sel bahan bakar lainnya.


Membran polimer merupakan komponen yang sangat penting dalam PEM fuel cell. Membran polimer ini dapat memisahkan reaktan dan menjadi sarana transportasi ion hidrogen yang dihasilkan di anoda menuju katoda sehingga menghasilkan energi listrik. Kemurnian gas hidrogen sangat mempengaruhi emisi buang sistem fuel cell berbasis polimer tersebut. Kemurnian hidrogen yang tinggi memberikan tingkat emisi yang mendekati zero emission. Penggunaan hidrogen dengan tingkat kemurnian tinggi juga dapat memperpanjang waktu hidup membran fuel cell dan mencegah pembentukan karbonmonoksida (COx) yang beracun, pada permukaan katalis (Jamal, 2007).


Gambar 8. Skema PEMFC

Skema gambaran pada prinsip sel bahan bakar ditunjukkan pada Gambar 8. hidrogen sebagai bahan bakar yang dikonsumsi pada anoda, menghasilkan elektron yang dialirkan ke katoda melalui rangkaian luar. Ion hidrogen masuk ke larutan elektrolit dan tersebar ke katoda oleh aliran elektroosmotik. Pada katoda, oksigen dikombinasikan dengan elektron dan proton dari aliran elektrolit untuk menghasilkan air dan panas. Ionic liquids fuel cell (ILFs) merupakan sel bahan bakar berbasis hidrogen dengan cairan ionik sebagai elektrolitnya, yang berfungsi sebagai media untuk proton (H+) bermigrasi dari anoda menuju ke katoda. Pada penelitian sebelumnya (Souza, 2003) telah melakukan penelitian mengenai cairan ionik imidazolium sebagai media penghantar proton dalam sel bahan bakar.


Gambar 8. Diagram aplikasi sel bahan bakar pada berbagai bidang.

Dengan kemajuan yang signifikan, kini sel bahan bakar telah diaplikasikan pada berbagai bidang untuk memenuhi kebutuhan dan kemudahan bagi kehidupan manusia. Diantaranya untuk transportasi air, udara dan laut serta pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan industri. Serta digunakan dalam berbagai bidang seperti industri, kedokteran, transportasi hingga militer.


3.1 Kitosan


Kitosan pertama kali ditemukan oleh ilmuan Perancis, Ojier, pada tahun 1823. Ojier meneliti kitosan hasil ekstrak kerak binatang berkulit keras, seperti udang, kepiting, dan serangga.


Senyawa kitosan diperoleh dari proses deasetilisasi senyawa kitin. Kitin adalah poliamino sakarida yang cukup banyak terdapat di alam setelah selulosa, susunan molekulnya mirip dengan selulosa. Keterbatasan penggunaan kitin disebabkan kitin sukar larut dalam beberapa pereaksi. Oleh karena itu kitin banyak digunakan setelah ditransformasikan dalam bentuk kitosan. Gambar 9. menunjukkan reaksi transformasi kitin menjadi kitosan.


Gambar 9. Reaksi Transformasi Kitin Menjadi Kitosan. [1]

Kitosan yang dapat diperoleh dari deasetilasi kitin merupakan biopolimer yang potensial untuk dijadikan bahan dasar membran sel bahan bakar (fuel cell membranes). Dikarenakan keunggulan material ini yang bersifat hidrofilik, mempunyai ketahanan mekanik yang tinggi, mudah dimodifikasi secara kimia, ramah lingkungan serta keberadaanya yang melimpah di alam.


3.2 Kitosan Sulfonat


Untuk meningkatkan konduktivitas membran kitosan dan menurunkan permeasi terhadap metanol dalam aplikasi sel bahan bakar dilakukan proses sulfonasi terhadap kitosan. Reaksi sulfonasi dapat diartikan sebagai suatu reaksi subtitusi untuk mengganti atom hidrogen dengan gugus –SO3H pada molekul organik melalui ikatan kimia pada atom karbon. Syarat untuk terjadinya sulfonasi adalah keasaman fasa yang harus dipenuhi, karena jika terjadi perbedaan fasa antara gugus sulfonasi dengan polimer yang akan disulfonasi dapat menyebabkan reaksi sulfonasi mengalami kegagalan. Selain itu dalam reaksi ini diperlukan suatu pelarut yang memiliki kelarutan yang baik.


Proses sulfonasi dapat dilakukan dengan senyawa yang memiliki gugus sulfonat diantaranya yaitu asam sulfat (H2SO4), oleum, asetil sulfat, dan asam klorosulfonat. Proses sulfonasi pun dapat dilakukan dengan 2 metode, metode pertama yaitu metode konvensional dan metode yang kedua menggunakan bantuan gelombang mikro (microwave oven). Hasil karakterisasi penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa membran kitosan sulfonat yang dihasilkan dengan metoda konvensional memiliki sifat termal dan kapasitas penukar proton yang lebih tinggi dibandingkan membran yang diperoleh dengan bantuan gelombang mikro.


Namun demikian, membran yang dihasilkan dari metoda pertama sangat rapuh. Sebaliknya, membran kitosan tersulfonasi yang diperoleh dari hasil reaksi dengan bantuan gelombang mikro mempunyai kekuatan mekanik yang baik untuk uji permeasi selanjutnya. Data penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa membran kitosan sulfat yang disintesis dengan gelombang mikro mempunyai nilai permeasi terhadap metanol yang lebih rendah dibandingkan dengan membran kitosan tanpa sulfonasi (Velianti, 2008). Gambar 10. menunjukkan reaksi transformasi kitosan menjadi kitosan sulfonat dengan asam klorosulfonat sebagai agen pensulfonasinya.


Gambar 10. Reaksi Transformasi Kitosan Menjadi Kitosan Sulfonat. [10]

Penelitian mengenai sintesis kitosan sulfat dengan bantuan gelombang mikro telah dilakukan sebelumnya (Mansyur, 2009). Gelombang mikro digunakan untuk membantu pemasukan gugus N-sulfo dan O-sulfo pada kitosan. Struktur kitosan sulfonat yang didapatkan dengan gelombang mikro tidak jauh berbeda dengan struktur kitosan. Karakterisasi penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan menggunakan gelombang infra merah menghasilkan spektrum khas yang sama dengan kitosan hanya berbeda serapan pada bilangan gelombang 1382,96 cm-1 yang menunjukkan vibrasi ulur ikatan –SO2O-O- dan pada serapan 1018,41 cm-1 yang menunjukkan ikatan C-O-S. Selain itu, puncak gugus C=O yang terdapat pada bilangan gelombang 1658 cm-1 memiliki kesamaan antara kitosan dan kitosan sulfonat menunjukkan bahwa rantai polimer tidak mengalami pemutusan ikatan.


3.3 Modifikasi Membran dengan Cairan ionik


Pemodifikasian membran Nafion® dengan cairan ionik 1-etil-3-metilimidazolium (EMI) telah dilakukan oleh Bennett, et al. (2005). Pemodifikasian tersebut dilakukan untuk mengetahui pengaruh cairan ionik pada membran Nafion® dengan cara identifikasi pada nilai konduktivitas membran dan morfologi membran. Pemodifikasian dilakukan dengan cara meredam membran dalam cairan ionik / metanol dengan perbandingan 1:1 (v/v) selama 3 jam pada suhu ruang dan pada suhu 70 oC. Metanol dipilih karena dapat melarutkan cairan ionik dan sifatnya yang mudah menguap. Membran kemudian dikeringkan pada suhu 110 oC selama 3 jam untuk menghilangkan metanol. Dilaporkan pula bahwa proses pemodifikasian membran dengan cairan ionik akan lebih baik pada suhu tinggi, namun penguapan methanol sangat cepat pada suhu 90 oC, sehingga proses pemodifikasian tidak terkendali.

3.4. Cairan Ionik (Ionic Liquids)


Cairan ionik (ionic liquids) adalah suatu senyawa yang hanya memiliki spesies ionik tanpa adanya molekul netral yaitu hanya terdiri atas kation-anion (Hermanutz, et al., 2006). Dalam arti luas, istilah ini mencakup semua garam cair, misalnya, lelehan natrium klorida pada suhu yang lebih tinggi dari 800 °C. Namun, pada saat ini, istilah "cairan ionik" digunakan untuk garam dengan titik lebur yang relatif rendah (dibawah 100 °C). Berbeda dengan garam cair (molten salt) yang biasanya mempunyai titik leleh dan viskositas tinggi, juga sangat korosif, cairan ionik umumnya berwujud cair pada suhu kamar, mempunyai viskositas relatif lebih rendah dan relatif tidak mempunyai sifat korosif (Toma, et al., 2000). Dengan demikian, cairan ionik (ILs) hanya digunakan untuk garam dengan titik leleh yang relatif rendah, yaitu terletak pada suhu < 100 - 150 oC (Hagiwara dan Ito, 2000; Hermanutz, et al., 2006), terutama garam yang berbentuk cairan pada suhu kamar lebih dikenal dengan room-temperature ionic liquids (RTILs).


Keuntungan dari sifat yang dimiliki cairan ionik adalah memiliki rentang cair besar, sekitar 300 °C (-96 sampai lebih dari 200 °C) ; memiliki kestabilan termal dan elektrokimia yang tinggi; merupakan pelarut yang baik bagi material organik, anorganik maupun polimer; tidak mudah menguap; tidak mudah terbakar; tidak beraroma (bau yang ditimbulkan berasal dari pengotor); menunjukkan keasaman Bronsted, Lewis, Franklin dan keasaman yang tinggi (Superacidity); dapat menjadi katalis sekaligus sebagai pelarut; memiliki sifat selektif yang tinggi terhadap suatu reaksi dan sebagainya (Fitzwater, et al., 2005; Lajunen, 2006; Pitner, 2004).


Sifat dari cairan ionik dapat disesuaikan dengan mengubah struktur kation dan anionnya (Murugesan dan Linhardt, 2005). Sifat-sifat cairan ionik seperti kepolaran atau hidrofilisitas/ lipofilisitas yang bisa diatur tergantung dari kation maupun anion yang menyusunnya menjadikan cairan ionik dikenal sebagai tailored-made solvents (Gordon, 2003).


Jenis-jenis kation yang sering digunakan sebagai kation cairan ionik diantaranya adalah sebagai berikut (Murugesan dan Linhardt, 2005):


Gambar 11. Beberapa Jenis Kation Cairan Ionik.

Sedangkan jenis anion yang sering digunakan diantaranya adalah tetraflouroborat [BF4]-, heksaflouroposfat ([PF6]-), heksafluoro antimonat ([SbF6]-), nitrat ([NO3]-), tosilat ([Ots]-), triflat ([Otf]-), bromida (Br-), klorida (Cl-), iodida (I-), triflouroasetat ([CF3CO2]-), perklorat ([ClO4]-), germanium klorida ([GeCl3]-), bis(trifluorometilsulfonil) imida ([NTf2]-), aluminium klorida ([Al2Cl7]-), aluminium tetraklorida ([AlCl4]-), asetat ([CH3CO2]-), dan benzoat ([C6H5CO2]-) (Murugesan dan Linhardt, 2005).


3.4.1 Sintesis Cairan Ionik


Tahapan sintesis dari cairan ionik dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu: pembentukan kation yang diinginkan dan pergantian anion untuk membentuk produk yang diinginkan. Pada beberapa kasus, produk dapat langsung dihasilkan tanpa melakukan tahap kedua seperti pada pembentukan etilammonium nitrat. Kebanyakan kasus kation yang diinginkan secara komersil tersedia dalam harga yang wajar (seperti garam halida, garam tetraalkilammonium dan trialkilsulfonium iodida), yang hanya digunakan untuk reaksi pergantian anion. Reaksi yang digunakan untuk mensintesis cairan ionik meliputi reaksi kuartenerisasi dan reaksi pergantian anion (Gordon, 2003).


3.4.2 Reaksi Kuartenerisasi


Pembentukan kation dapat dihasilkan melalui protonasi dengan adanya asam bebas atau kuartenerisasi dari amina atau fosfin, biasanya dengan haloalkana. Reaksi protonasi, yang biasa digunakan pada pembentukan garam seperti etilammonium nitrat, melibatkan penambahan asam nitrat 3 M yang kemudian didinginkan ke dalam larutan etilamin. Kelemahan proses ini yaitu dihasilkannya residu amina yang tidak diharapkan (Gordon, 2003).

Pada prinsipnya, reaksi kuartenerisasi sangatlah sederhana, amin atau fosfin dicampurkan dengan haloalkana yang diinginkan kemudian diaduk dan dipanaskan. Garam halida yang dihasilkan pun dapat dengan mudah dirubah menjadi garamgaram lain dengan anion yang berbeda (Gordon, 2003).


3.4.3 Reaksi Pergantian Anion


Reaksi pergantian anion dapat dibagi dalam dua kategori yaitu perlakuan langsung dari garam halida dengan asam lewis dan pembentukan cairan ionik melalui reaksi metatesis anion (Gordon, 2003).


3.4.3.1 Reaksi Asam Basa Lewis


Pembentukan cairan ionik dengan proses ini dilakukan dengan perlakuan dari garam halida dengan asam Lewis (biasanya AlCl3). Proses yang umum dilakukan yaitu perlakuan dari kuartener garam halida Q+X- dengan asam Lewis MXn menghasilkan pembentukan lebih dari satu spesi anion yang bergantung dari perbandingan relatif dari Q+X- dan MXn. Pembentukan dari proses ini dapat dicontohkan dengan etilmetilimdazolium (EMIM) klorida dan AlCl3 seperti reaksi dibawah ini:



[EMIM]+Cl- + AlCl3 → [EMIM]+ [AlCl4]-
[EMIM]+ [AlCl4]- + AlCl3 → [EMIM]+ [Al2Cl7]-
[EMIM]+ [Al2Cl7] -- + AlCl3 → [EMIM]+ [Al3Cl10]–

Metode yang sering digunakan untuk pembentukan cairan ionik dilakukan dengan pencampuran sederhana dari asam Lewis dengan garam halida. Reaksi umumnya eksoterm, ketika menambahkan satu zat ke dalam zat lain haruslah dengan sangat hati-hati. Walaupun garam relatif stabil akan suhu, panas yang terbentuk dari lingkungan dapat menyebabkan dekomposisi cairan ionik yang disintesis. Hal ini dapat dicegah dengan pendinginan selama proses pencampuran, walaupun hal itu dirasakan sangat sulit, atau bisa juga dengan menambahkan suatu zat ke dalam zat lain dengan jumlah yang sedikit demi sedikit. Dekomposisi atau pengurangan jumlah terjadi akibat adanya hidrolisis yang terjadi dalam cairan. Tetapi, hal yang biasa jika produk yang dihasilkan tidak murni 100% atau terkontaminasi dengan pengotor. Hal itu pun pasti terjadi pada sintesis cairan ionik, dan pengotor yang biasa mengkontaminasi produk adalah pelarut organik (Gordon, 2003).


3.4.3.2 Reaksi Metatesis Anion


Reaksi metatesis anion biasanya terjadi pada garam-garam yang ditambahkan dengan garam perak (AgNO3, AgNO2, AgBF4, Ag[CO2CH3] dan Ag2SO4) dalam metanol atau larutan metanol. Pada beberapa aplikasi, produk akan berupa cairan pada suhu ruangan. Kombinasi dari anion dapat menghasilkan perbedaan sifat termal yang berbeda-beda (Gordon, 2003).


3.5. Fatty Imidazolinium sebagai Sistem Kation Baru pada Cairan Ionik


Kation fatty imidazolinium pada Gambar 12(b) mempunyai struktur dan fungsi yang sangat mirip dengan kation imidazolium Gambar 12(a), berbeda hanya pada gugus substituen pada N3 [dengan adanya gugus amida, -[C(O)(NH)] pada Gambar 12(b) dan adanya ikatan rangkap pada sistem lingkar Gambar 12 (a). Garam fatty imidazolinium ini dapat disintesis dari asam lemak (Bajpai, dan Tyagi, 2006; Tyagi, et al., 2007), sehingga dimungkinkan untuk mendapatkan garam ini dari minyak nabati terbarukan lokal.

Gambar 12. Struktur Kation Imidazolium (a) dan Fatty Imidazolinium (b)




Gambar 13. Struktur Molekul dari (i) Fatty Imidazoline dan (ii) Kation Fatty Imidazolinium
Penggunaan iradiasi gelombang mikro (microwave irradiation) dalam sintesis organik menawarkan beberapa keuntungan yaitu umumnya reaksi dapat berlangsung dalam waktu yang singkat, rendemen yang diperoleh tinggi, dan kemurnian hasil yang tinggi. Selain itu, reaksi kering (dry reaction) dalam microwave menarik perhatian para peneliti karena dapat meminimalisir keracunan akibat penguapan dari pelarut organik yang berbahaya bagi tubuh (Bajpai et al., 2008).


3.6 Mekanisme Pemanasan dengan Gelombang Mikro


Gelombang mikro merupakan salah satu bentuk energi elektromagnetik dengan panjang gelombang antara 0,01 hingga 1 meter. Gelombang mikro terletak di antara gelombang inframerah dan gelombang radio dan memiliki frekuensi berkisar antara 0,3 samapai 30 GHz. Untuk penggunaan dalam laboratorium, frekuensi yang sering dipakai adalah 2,45 GHz. Proses pemanasan dalam sintesis organik dengan gelombang mikro melibatkan agitasi molekul polar atau ion yang bergetar dibawah pengaruh medan magnet atau arus listrik yang bergetar. Dalam medan yang bergetar, partikel-pertikel berusaha untuk mengorientasi diri agar menjadi sefasa. Gerakan partikel-partikel dibatasi oleh gaya dalam partikel yang menghasilkan gerakan acak hingga akhirnya menghasilkan panas.


Respon berbagai material terhadap radiasi gelombang mikro beragam dan tidak semua material dapat mengalami pemanasan oleh gelombang mikro, hanya material yang mengadsorpsi radiasi gelombang mikro saja yang sesuai dengan microwave chemistry.

Material ini dikelompokkan berdasarkan mekanisme pemanasannya:


3.6.1. Polarisasi dipolar


Polarisasi dipolar merupakan proses menghasilkan panas oleh molekul polar. Molekul polar yang berada dalam medan elektromagnetik yang berosilasi dengan frekuensi yang sesuai berusaha untuk mengikuti medan dan menjajarkan diri agar sefasa dengan medan. Adanya gaya dalam molekul menyebabkan molekul polar tidak dapat mengikuti orientasi medan. Peristiwa tersebut menghasilkan pergerakan partikel acak yang akan menghasilkan panas.


Polarisasi dipolar dapat menghasilkan panas dengan salah satu atau dua mekanisme ini :


a. Interaksi antara molekul pelarut polar, seperti: air, methanol dan etanol
b. Interaksi antara molekul terlarut polar, seperti: ammonia dan asam format


Radiasi gelombang mikro memiliki frekuensi yang sesuai (0,3-30 GHz) untuk mengosilasi partikel polar dan bernilai cukup besar untuk interaksi intermolekul. Disamping itu, energi foton gelombang mikro sangat rendah (0,037 kkal/mol) relatif terhadap energi yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan molekul (80-120 kkal/mol). Oleh karena itu, eksitasi molekul dengan gelombang mikro tidak mempengaruhi struktur molekul. Interaksi yang terjadi murni kinetik.

3.6.2. Mekanisme konduksi


Panas dihasilkan karena adanya resistansi terhadap arus listrik. Medan elektromagnetik yang bergetar menghasilkan getaran electron atau ion dalam konduktor dan menghasilkan arus listrik. Arus yang masuk kedalam tahanan internal akan memanaskan konduktor.


3.6.3. Polarisasi antar muka (Interfacial polaritation)


Mekanisme pemanasan jenis ini merupakan gabungan dari mekanisme polarisasi dipolar dan mekanisme konduksi. Keuntungan sintesis dengan gelombang mikro ialah laju reaksi meningkat dengan adanya fenomena superboiling. randemen lebih tinggi, pemanasan lebih merata, lebih ramah lingkungan, pemanasan lebih selektif karena respon tiap molekul pada radiasi gelombang mikro berbeda-beda.


2.6 Konduktivitas Ionik


Konduktivitas listrik timbul karena adanya migrasi elektron atau migrasi ion. Konduktivitas elektronik adalah konduktivitas listrik yang disebabkan migrasi elektron-elektron. Sedangkan konduktivitas ionik adalah konduktifitas yang terjadi karena adanya migrasi ion-ion. Konduktivitas ionik bergantung pada jenis ion yang bermigrasi dalam material. Material disebut konduktor anionik jika ion-ion pembawa muatan negatif yang bermigrasi sedangkan untuk ion-ion pembawa muatan positif yang bergerak maka material tersebut dinamakan konduktor kationik.



Sumber : http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/03/cara-kerja-dan-aplikasi-sel-bahan-bakar-hidrogen-bahan-prinsip-contoh.html#ixzz2j5hXO2Da

Fuel Cell, Sumber Energi Mobil Listrik


http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2012/04/20/fuel-cell-sumber-energi-mobil-listrik-456766.html


Tahun 1752 Benjamin Franklin menemukan konsep arus listrik


Faraday mengembangkan motor elektrik tahun 1821


Dan abad ini elektronlah yang akan mengantar manusia keliling dunia…


Salah satu proyek masa depan dalam dunia transportasi adalah penggunaan mobil listrik menggantikan kendaraan yang berbahan bakar minyak bumi. Mobil listrik menjadi sangat fenomenal karena sumber energi yang lebih terjamin dibanding minyak bumi serta isu lingkungan yang menyebutkan bahwa pembakaran minyak bumi lebih banyak menghasilkan emisi. Sebelum melaju ke konsep mobil listrik maka yang menjadi tantangan adalah darimana sumber energi mobil ini? Ada beberapa konsep yang ditawarkan yaitu melalui penggunaan baterai dan fuel cell. Penggunaan baterai yang dapat diisi ulang adalah salah satu alternatif sumber energi untuk mobil listrik namun kendalanya adalah modus pengisian baterai yaitu diperlukan catu daya dan waktu pengisian ulang baterai. Untuk kebutuhan mobilitas yang cepat maka mengisi ulang baterai harus dilakukan dalam waktu yang singkat sama seperti saat manusia hendak mengisi bahan bakar minyak di SPBU sedangkan pengisian ulang baterai untuk daya yang besar bisa membutuhkan waktu berjam-jam. Tantangan inilah yang bisa dijawab oleh fuel cell.


Apa itu fuel cell? Fuel cell pada dasarnya mirip dengan baterai yaitu sumber daya yang menggunakan reaksi kimia untuk menghasilkan arus listrik. Perbedaannya terletak pada sumber energi yang didapat, jika baterai memanfaatkan reaksi kimia dan membutuhkan pengisian daya untuk mendapatkan arus listrik maka fuel cell tidak membutuhkan pengisian daya melainkan pengisian bahan bakar. Jadi fuel cell memanfaatkan bahan bakar untuk direaksikan secara elektrolisis untuk menghasilkan elektron dan mengalirkan arus listrik. Salah satu bahan bakar yang sering digunakan untuk fuel cell adalah hidrogen.


Bagaimana cara kerja fuel cell? Mari kita lihat diagram berikut:





Cara Kerja Fuel Cell


Keterangan gambar:


1. Anoda


2.Membran Cell


3.Arus listrik


4.Katoda


5. Vent


Dari gambar diatas gas hidrogen masuk dari sisi kiri atau bisa disebut anoda (tempat terjadinya reaksi oksidasi/pelepasan elektron) dan oksigen masuk di sisi kanan atau bisa disebut katoda (tempat terjadinya reaksi reduksi/penangkapan elektron) maka terjadilah reaksi berikut:


Anoda: H2 —-> 2elektron + 2H+


Katoda: 1/2O2 + 2elektron + 2H+ —> H2O


Masing-masing reaksi memiliki jumlah elektron (kutub negatif) dan proton (kutub positif) yang sama, gas hidrogen mengalami reaksi oksidasi atau melepaskan elektron sedangkan gas oksigen mengalami reaksi reduksi atau menerima elektron namun melalui mekanisme yang berbeda. Ion positif atau proton (2H+) masuk melalui membran dalam fuel cell (dalam gambar berwarna biru di tengah atau daerah nomer 2) namun membran ini bersifat selektif yaitu tidak bisa dilewati ion negatif atau elektron sehingga elektron harus melalui jalur lain yang dihubungkan menuju katoda yaitu jalur nomer 3. Pergerakan elektron inilah yang akhirnya menghasilkan arus listrik, jika kita ingat pelajaran dasar fisika bahwa arus listrik adalah arus yang mengandung muatan elektron. Maka gambar diatas menunjukkan arus elektron mampu mengubah energi listrik menjadi energi cahaya dan menyalakan lampu. Sedangkan di katoda elektron akan kembali bertemu proton untuk kemudian membentuk senyawa uap air karena adanya oksigen. Bisa dikatakan emisi untuk fuel cell berbahan bakar hidrogen ini hanyalah uap air bukan karbon dioksida seperti pembakaran pada umumnya.


Tantangan saat ini untuk penggunaan fuel cell adalah ketersediaan bahan bakar dan infrastruktur penyediaan gas hidrogen. Gas hidrogen pada umumnya dihasilkan dari reaksi oksidasi parsial gas alam atau methana, sedangkan methana sendiri banyak dibutuhkan untuk keperluan bahan bakar PLTU,pabrik amonia,dan petrokimia jadi diperlukan sumber bahan baku alternatif untuk menghasilkan gas hidrogen selain dari methana. Infrastruktur pengisian bahan bakar hidrogen dan tangki penyimpanannya juga masih menjadi masalah besar mengingat sifat gas hidrogen sangat mudah terbakar (flammable) dan membutuhkan tekanan tinggi untuk disimpan dalam bentuk gas (minimal 5000 psi). Dalam hal ini isu safety masih terus dipelajari supaya tidak terulang kejadian Hindenburg Disaster yaitu terbakarnya balon udara berbahan bakar hidrogen di New Jersey, Amerika Serikat akibat kebocoran tabung penyimpan gas hidrogen.





Mobil Fuel Cell





Sumber gambar:Diagram Fuel Cell


Mobil Fuel Cell